Pada tahun 2004, majalah NME mengatakan bahwa Franz Ferdinand adalah band rock hasil sekolah seni bersamaan dengan The Beatles, The Rolling Stones, The Who, Roxy Music, the Sex Pistols, Wire, Travis, dan Blur. Ungkapan NME tersebut ternyata masih relevan hingga sekarang karena band yang digawangi oleh Alex Kapranos, Bob Hardy, Paul Thomson, Julian Corrie, dan Dino Bardot masih menyimpan jiwa nyeni dalam penampilan mereka kedua kalinya di Jakarta pada Jum’at, 30 November 2018 kemarin. Konser ini digelar di Tennis Outdoor Senayan dengan promotor GO LIVE! dan Stellar Events.

Sebelum Franz Ferdinand bermain penonton disuguhkan dengan tiga band lokal yang sama nyeni-nya seperti band utamanya yaitu Elephant Kind, Fourtwnty, dan Barasuara. Setelah tiga band tersebut memberikan penampilannya kini giliran Franz Ferdinand yang akan menjadi teman pesta bagi para penontonnya selama lebih dari 90 menit konser berjalan.

Konser dimulai dengan nomor disko dari Franz yang cukup pelan dari album “Always Ascending” yaitu “Glimpse of Love”, “Paper Cages” serta nomor santai dari album kedua mereka yaitu “Walk Away”. Setelah pemanasan dari tiga lagu tersebut selesai dibawakan kini saatnya Alex Kapranos dan kawan-kawannya memainkan nomor-nomor medium yang lumayan cepat mulai dari “No You Girls”, “Evil Eye”, dan “Finally” yang sukses membuat penonton semakin memanas dan terus bergoyang.

Puncak kegilaan pertama konser dimulai ketika mereka membawakan “Do You Want To” dimana penonton semakinn liar untuk bergoyang. Alex membiarkan para penontonnya menyanyikan lirik paling legendaris dari lagu ini yaitu “lucky, lucky, you’re so lucky” sebelum ia bersama rekan bandnya menutup lagu dengann pekikan riff gitar dan beat yang ikonik.

Kegilaan tidak berhenti sampai disitu, pada “The Dark of the Matinee” penonton masih bernyanyi dan berdansa bersama bahkan sampai ke lagu terbaru mereka “Lazy Boy”. Sebelum “Lazy Boy” dimainkan Alex bertanya kepada penonton yang bisa bermain electric gitar. Awalnya penontonn mengira bahwa ini adalah pertanyaan yang numpang lewat tapi ternyata itu merupakan sebuah sayembara darinya untuk memainkan bagian gitar utama dari “Michael” bersama mereka di atas panggung dan terpilihnya satu penonton bernama Ade yang beruntung bisa memainkan riff gitar maut di lagu ini bersama idolanya.

Begitu riff dasar gitar “Take Me Out” dimainkan penonton langsung hilang kendali dan terus bergoyang tanpa kenal lelah ketika lagu tersebut dibawakan seperti terbawa kembali ke pertengahan 2000an dimana ketika itu mendengarkan Franz Ferdinand adalah sesuatu yang keren. Setelah “Love Illumination” dan “Ulysses” dibawakan mereka turun panggung untuk sementara waktu karena tidak sabar untuk membuat penonton Jakarta kembali bergoyang.

Alex kembali ke panggung dengan menyeruput secangkir teh hangat seperti layaknya orang Britania Raya seolah-olah memberikan atmosfir santai kepada para penontonnya. Setelah berceramah sedikit tentang bagaimana dia senang kembali menghibur penonton di Jakarta setelah 9 tahun lamanya ia menyuruh penontonnya melakukan sebuah gerakan untuk memanggil alien diiringi dengan intro “Always Ascending” yang memang terasa seperti lagu pemanggil alien karena bunyinya yang mengawang. “Always Ascending” dan lagu berikutnya “Feel the Love Go” kembali membuat penonton berkeringat sambil bergoyang santai. Lagu spesial yang kata Alex merupakan lagu permintaan penonton “Outsiders” semakin memuaskan penonton.

Puncak kedua dari konser Franz Ferdinand kali ini terletak di lagu penutupnya yaitu “This Fire”. Pada “This Fire”, Franz Ferdinand mengukuhkan posisinya sebagai band pembawa asyik suasana dengan mengajak penontonnya untuk menunduk sebentar bagaikan bawahan kepada rajanya lalu loncat ketika lagu tersebut menemui titik tertingginya. Sebelum memasuki bagian akhir lagu, Alex dan teman-teman bandnya bersantai sejenak dan maju ke depan panggung untuk bergoyang bersama (kecuali Bob yang memainkan bass sambil duduk di amplifier) seolah mempersiapkan jurus pamungkas yang akan membuat penonton sangat kehilangan energinya. Ketika “This Fire” selesai Franz Ferdinand pun pamit undur diri di tengah lemasnya penonton yang sibuk bergoyang sepanjang 17 lagu.

Judul dari artikel ini mengandung kata “Berteman Bersama Franz Ferdinand”, hal tersebut bukanlah hanya sebuah judul untuk menglorifikasi penampilan mereka saja. Sepanjang konser berjalan Franz Ferdinand seolah tidak berjarak dengan penonton dan terus menyebarkan aura positif mulai dari mengucapkan “Terima kasih” berkali-kali, menyuruh penonton maju sebagai cara untuk membangun keintiman di atas lantai dansa yang masif di Tenis Outdoor Senayan, mengajak penonton bermain bersama mereka, menyuruh penonton untuk meneriakkan yel-yel arahan Alex Kapranos di hampir setiap lagu sampai membuat penonton kehabisan suara, berkata bahwa mereka suka dengan semangat orang Jakarta, loncat di atas panggung, memainkan gitar dengan gaya yang nyentrik, dan menawarkan teh hangat kepada penonton. Pada umurnya yang mau menginjak kepala lima, Alex Kapranos masih bermain sangat energik dan sangat gila seolah mereka masih berada di fase album perdana mereka. Energi yang bagus seperti itu juga menular ke kawan-kawannya di atas dan di bawah panggung sehingga menciptakan sebuah atmosfir yang sangat menyenangkan di malam Sabtu.

Permainan Franz Ferdinand yang apik dan juga nyentrik ini memang luar biasa dan sangat jarang bagi sebuah grup musik untuk menjaga semangat nyeni-nya selama bertahun-tahun. Memang benar apa yang dikatakan sang basis Bob Hardy dalam wawancaranya bersama CreativeDisc bahwa mereka tidak merasakan adanya perubahan selama hampir dua dekade berkarya yang ada mereka selalu menjadi lebih baik dan hal tersebut bukanlah sebuah jawaban settingan agar media puas tetapi dibuktikan dengan performa mereka yang ajaib, menyenangkan, ramah, menakjubkan, dan autentik pada kali kedua mereka datang ke Jakarta.

Sama seperti lirik lagu mereka “Do You Want To”

“I’ve gotta make somebody love me/And now I know, now I know, now I know, I know that is you/You’re lucky lucky you’re so lucky……. I love your friends they’re all so arty, oh yeah”

Mereka membuktikan bahwa mereka patut dicintai karena mereka adalah seorang teman yang sangat nyeni yang ingin dicintai oleh penggemarnya.

Photo by Budi Susanto